|
News
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Kamis, 21 Mei 2009 15:45 |
|
FLU BABI (SWINE INFLUENZA) Virus ini tidak menular ke manusia, tetapi infeksi berlangsung antar manusia. Gejala yang di timbulkan seperti flu pada umumnya, termasuk demam, batuk, radang tenggorokan, sakit persendian, pusing, kedinginan dan kelelahan. Beberapa orang yang terinfeksi di laporkan mengalami diare dan muntah. |
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Kamis, 14 Mei 2009 15:57 |
Kalimantan Barat kembali mempeketat pengawasan lalu lintas manusia dan perdagangan hewan di pintu perbatasan dengan Sarawak Malaysia, terkait merebaknya virus flu babi tipe A subtipe H1N1.
"Sejak mewabahnya flu burung, pemeritah provinsi Kalbar telah memperketat lalu lintas perdagangan hewan unggas, babi, dan sapi dari dan ke Kalbar. Hal ini juga berlaku dalam pengawasan virus flu babi," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kehewanan Kalbar, Abdul Manaf Mustafa saat berbincang dengan okezone, Selasa (28/4/2009).
Dia menambahkan, lalu lintas perdagangan hewan babi, unggas, dan sapi diawasi ketat oleh pemerintah provinsi melalui Peraturan Gubernur Nomor 26 Tahun 2008.
"Semua produk ternak yang akan masuk ke Kalimantan Barat harus seizin gubernur, baik antar daerah maupun antar negara, seperti Sarawak-Kalbar," kata dia.
Setelah mendapat surat edaran dari pemerintah pusat yang meminta peningkatan kewaspadaan terkait mewabahnya flu babi, tim Participatory Desease Search and Response (PDSR) yang di dalamnya termasuk Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan, Bea Cukai, dan Balai Karantina, memfokuskan pada peningkatan pengawasan di Bandara, Pelabuhan, dan juga lima pintu perbatasan darat antara Indonesia-Malaysia.
Namun, lanjut Manaf, dia tak menampik bahwa pengawasan tidak dapat dilakukan secara maksimal lantaran ada 64 pintu di sepanjang 867 km perbatasan antara Indonesia-Malaysia.
"Kami sudah meminta Bea Cukai dan Balai Karantina untuk memperketat pengawasan, tapi jumlah personel di lapangan sangat kurang untuk mengawasi 64 pintu perbatasan," ujarnya.
Mengenai kebijakan menolak impor babi oleh pemerintah pusat, Manaf menyambut baik. Dia menambahkan, untuk rumah potong hewan babi kini semakin diawasi pemotongannya.
"Pelaksanaan pemotongan babi di RPH juga harus ditingkatkan pengawasannya, juga terhadap petugasnya. Yang paling efektif adalah terus mengawasi lalu lintas produk ternak babi. Saat ini, kami akan ambil surveillance dan memeriksakannya ke laboratorium," pungkasnya.Sumber: http://okezone.com |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Selasa, 12 Mei 2009 21:42 |
|
Menindak lanjuti Surat Kepala Badan Karantina Pertanian No.1960/KH.210/L/4/09 tentang Peningkatan Pengawasan karantina Terhadap Pemasukkan Media Pembawa Swine Influenza dimana kesiagaan No. 7 adalah "Melakukan Public Awareness kepada masyarakat dan instansi terkait", maka pada tanggal 1 Mei 2009 SKP I Entikong menyelenggarakan Sosialisasi dan Koordinasi Sistem Kewaspadaan Dini Swine Influenza (Flu Babi). Bertempat di ruang pertemuan Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong tersebut dihadiri segenap jajaran CIQ di PPLB Entikong, Muspika Entikong, Sekayam, Noyan dan masyarakat. Pembicara dalam acara tersebut selain Kepala SKP I Entikong, Choirul Anam, SP, adalah Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Kalimantan Barat Drh. Abdul Manaf dan perwakilan dari dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Barat. Juga berbicara pada kesempatan itu Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Propinsi Kalimantan Barat sebagai perwakilan masyarakat. Kegiatan yang serupa tetapi dalam skala lebih kecil juga telah dilakukan beberapa hari sebelumnya, tepatnya tanggal 29 April 2009, bertempat di desa Pemodis Kecamatan Beduai, drh. Gigih Ikhtiari E dan Damar Ariyo P., A.Md melakukan pertemuan dengan warga setempat guna mengantisipasi meluasnya Swine Influenza. |
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Kamis, 19 Maret 2009 15:15 |
|
Balai Karantina Pertanian Kelas I Pontianak pada hari Kamis tanggal 11 Maret 2009 pukul 10.30 WIB bertempat di halaman Laboratorium BKP Kelas I Pontianak telah memusnahkan unggas sebanyak 50 ekor dengan cara disembelih kemudian di bakar. Unggas tersebut terdiri dari Ayam 22 ekor dan Burung 28 ekor yang berasal dari Semarang, Jakarta, Surabaya, serta Pulau Natuna dan masuk melalui Pelabuhan Laut Dwikora Pontianak ke Kalimantan Barat. |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
Hakcipta © 2010 Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Pontianak.
Semua Hak Dilindungi.
|
|
Selasa, 07 September 2010
Pengunjung Online
Kami memiliki 11 Tamu dan 2 Anggota online
Admin Chat
Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Pontianak Jl. Pelabuhan Laut Pontianak 0561 732995 support: admin@bkppontianak.web.id
|